Cari Blog Ini

Selasa, 29 November 2011

ALIRAN POLITIK DAN AQIDAH DALAM PEMIKIRAN POLITIK ISLAM



Asal-Usul
            Meninggalnya Rasulullah setelah berdirinya  sebuah komunitas  Islam,  meninggalkan beberapa  ikhtilaf  di antara para  sahabat  Nabi  dalam  mengelola   sistem masyarakat, atau  secara  khusus  sistem  kenegaraan. Kedudukan  nabi sebagai seorang utusan  (rasul)  jelas tidak  mungkin digantikan, sedangkan  jabatan  sebagai pemimpin    umat tampaknya   logis   dan    rasional dibicarakan.
            Perdebatan  juga berkisar tentang peranan  Nabi sebagai   seorang  Nabi  semata  yang  hanya   membawa kepentingan  kenabian,  ataukah  membawa   pesan-pesan politik  kemasyarakaratan. Fenomena ini banyak  dikaji oleh para orientalis, dalam usaha melihat posisi  dan kedudukan Muhammad dalam dua periode besar. H.R.  Gibb dalam memandang peran Muhammad setidaknya  menggunakan dua periode besar, yakni periode Makkah  dan  periode Madinah. Dalam  periode  Makkah,  kedudukan  Muhammad disebutnya sebagai Nabi semata, semisal dengan Isa. Ia tidak pernah memaklumkan sebuah komunitas baru  dengan segala prinsip-prinsipnya.  Ia juga  tidak  melakukan usaha-usaha proteksi dengan kekuatan senjata meski  ia dipojokkan.   Tak  pernah ditemukan  sebuah   konflik politik   yang  besar,  yang kemudian   memungkinkan terjadinya  perang  antara kaum Muhammad  dengan  kaum Arab  lainnya.  Bahkan dipandang dalam  kehidupan  di Makkah  ini,  Muhammad sebagai  seorang  Nabi,  seorang yang  egaliter,  yang  tidak membedakan  antara  umat beriman dengan tidak beriman. Sedangkan  dalam  periode Madinah,  fungsi  dan peran kenabian dari Muhammad berpindah menjadi  fungsi seorang raja.   Dalam   pandangan   Gibb,   Muhammad menempatkan dirinya  sebagai seorang  pemimpin  Islam dari  komunitas masyarakat Islam yang khas.  Ia  tidak hanya  menjalankan peran kenabian akan  tetapi  lebih menjalankan  tugas seorang raja yang  mengatur  suatu komunitas.  Dalam  periode  ini dibuktikannya  dengan ciri-ciri  masyarakat Madinah yang cenderung  bersikap dikhotomik sampai antagonistik kepada komunitas  lain.
            Piagam  Madinah  sebagai  piagam  perdamaian memilah masyarakat  Madinah  dalam tiga kelompok  besar; umat beriman  (Islam),  Umat Beriman (non-Islam)  dan  Umat tidak  beriman.  Di  mana  menempatkan  Islam  sebagai pengendali    utama    sendi-sendi-sendi     kehidupan masya-rakat. Meski diakui bahwa Muhammad dalam mengatur hubungan  antar  komunitas dengan  adil,  akan  tetapi tetap dipandangnya  sebagai  tindakan  diskriminatif.
            Bukti yang cukup populer di kalangan orientalis adalah berupa  fenomena  perang,  yang  hanya  terjadi  dalam periode  Madinah,  tidak di Makkah, Baik  dari  perang Badr, Uhud, Ahzab (parit), Hunain  dan  perang-perang berikutnya. Dalam   proses  perbincangan   inilah   terjadi diskursus panjang di antara para sahabat  Nabi  dalam menentukan kepemimpinan  umat.  Proses  pertama  yang diawali   sedikit
banyak   memperdebatkan   persoalan primordialisme, apakah pemimpin tersebut diambil  dari tradisi siapa yang paling berjasa kepada da'wah Islam. Dalam  posisi ini, antara etnik Muhajirin  dan  Anshor sama-sama  menduduki  peluang yang sama  besar  dalam kedudukannya sebagai pembela Islam. Legitimasi tradisi tampaknya  tidak  terselesaikan hanya dengan  merujuk siapa  yang paling berjasa. Kemudian ditempuh  dengan proses  kedua, yakni dibentuknya majlis syura,  untuk menentukan  etnik manakah yang terlebih dahulu  masuk Islam. Ide ini akhirnya dimenangkan dengan suara bulat oleh  sebagian kaum muslimin dengan menempatkan  kaum Muhajirin  sebagai  yang berhak menyandang  kedudukanpemimpin.  Meski meninggalkan perasaan  inferior  bagi masyarakat  Anshor, yang menyebabkan Sa'ad bin  Ubadah menarik  diri dari panggung kepemimpinan umat.  Proses yang ketiga, yakni merujuk kepada perdebatan di antara qabilah-qabilah  dari  masyarakat  Muhajirin  di  mana kemudian  terjadi perdebatan panjang,  yakni  siapakah yang  lebih dekat kepada nasab Nabi ke atas atau  nabi ke bawah.
            Dari  perdebatan kepimpinan ini, menjadi  lebih runyam manakala  terdapat sebuah  persinggungan  yang sangat  kuat antara nasab nabi ke atas dan nasab  nabi ke  bawah.  Inilah yang akhirnya  menjadi  asal-muasal perbedaan   konsep kepemimpinan  dalam   Islam   pada periode-periode awal.
Makna KekhilafahanKekhilafahan   merupakan  bentuk pemerintahan dalam   sejarah  Islam  yang  merujuk  kepada proses sejarah,   sejak  meninggalnya  Nabi   Muhammad SAW. Kekhilafahan  pertama kali diperkenalkan pertama  kali dalam masa Khilafah Ar-Rasyidin (Khalifah Yang Lurus). Pemegang   kekuasaan   kekhilafahan   disebut   dengan khalifah.  Pemaknaan istilah kekhilafahan akan  sangat berarti dengan melacak dari sisi  kepemimpinan  umat. Sistem kekhilafahan  menge-depankan  terlegitimasinya jabatan khilafah sebagai pelaksana sistem  kehilafahan itu sendiri.  Kata  khalifah sendiri menurut Thabari  secara bahasa terdiri dari  kha, lam dan  fa  yang  artinya menggantikan.[1] 
            Sedangkan menurut Ibnu Ishaq  khalifah itu  sendiri mempunyai makna  mendiami,  memakmurkan, mengolah. Istilah khalifah sendiri dalam Al-Quran  muncul dua kali dalam bentuk tunggal dan 7 kali dalam  bentuk jamak;  empat  dalam bentuk khala'if  dan  tiga  dalam bentuk  khulafa'.  
Kata  Khilafah  dapat  ditemukan dalam;
1. Surat Al-Baqarah:
Dan  ketika  Tuhanmu  berfirman  kepada   malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang  khalifah di muka bumi". (QS. 2:30)
2. Surah Shad
Hai  Dawud,  sesungguhnya  Kami  telah   menjadikan engkau  sebagai khalifah di muka bumi". (QS.  Shad, 26)
3. Surah Al-An'am:
Dan  dia Alloh yang akan menjadikan  kamu  sekalian sebagai khalifah di muka bumi (QS.Al-An'am)
4. Surah Fathir:
Dan Alloh yang menjadikan kamu sekalian khalifah di muka bumi (QS. Fathir;39)
5. Surah Al-A'raf:
Maka datanglah sesudah mereka-mereka itu pengganti-penganti  (khalifah)  yang jahat  memusakai  kitab, mereka mengambil benda-benda dunia yang rendah  ini sambil mereka berkata:"Akan diampuni  dosa  kami". (QS.Al-A'raf: 169)
6. Surah Maryam:
Maka   datanglah  sesudah  mereka  itu   pengganti-pengganti  (khalifah)  yang jahat.  Mereka  menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsu.  (QS. Maryam:59)
7. Surat An-Nur
Alloh  telah  menjanjikan  bagi  orang-orang   yang beriman  dari  antara  kamu  dan  orang-orang  yang mengerjakan   kebajikan  bahwa  ia   (alloh)   akan menjadikan   mereka   khalifah   di   muka    bumi, sebagaimana  Ia  telah  menjadikan  khalifah   pada orang-orang   sebelum   mereka,  dan   Alloh   akan memantapkan  bagi  mereka  itu  agama  yang   telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan ditukar sesudah kekuatan  mereka itu dengan keamanan.  (QS.  An-Nur 55)
            Kata  khalifah dalam surah Al-Baqarah, dan  An-Nur merujuk kepada makna wakil Tuhan, sedangkan  kata khalifah  dalam  Surah Al-An'am dan  Fathir  ditujukan kepada umat Islam sebagai pengganti orang-orang  yang terdahulu dari mereka.[2]
            Sedangkan dalam hadis, kata khalifah disebutkan berikut:
1. Hendaklah  kamu  sekalian  berpegang  teguh  kepada sunahku  dan  sunah  khalifah-khalifah  yang   sama mengikuti petunjuk yang benar (HR. Abu Dawud)
 2. Apabila dibai'at dua orang khalifah, maka hendaklah kamu sekalian membunuh salah satu  dari  keduanya.(HR. Muslim)
3. Apabila  kaum Bani Israil terpelihara,  mereka  itu oleh Nabi-nabi, tiap-tiap seorang nabi wafat,  maka seorang nabi   datang    menggantikannya.    Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan  ada sesudahku khalifah-khalifah, lalu banyaklah  mereka itu. (HR. Muslim dan Bukhari).[3]
4. Akan  terjadi nubuwah di tengah kamu, apa-apa  yang Alloh  kehendaki untuk terjadi, kemudian  Dia  akan mengangkatnya  bila  Dia  sudah  menghendaki  untuk mengangkatnya.  Kemudian akan muncul khalifah  atas manhaj nubuwah, maka terjadilah apa-apa yang  Alloh kehendaki   untuk   terjadi,  kemudian   Dia   akan mengangkatnya  bila  Dia  sudah  menghendaki  untuk mengangkatnya.   Lalu  muncul  kerajaan   pengganti (khalifah).  Maka  terjadilah  apa-apa  yang  Alloh kehendaki   untuk   terjadi,  kemudian   Dia   akan mengangkatnya  bila  Dia  sudah  menghendaki  untuk mengangkatnya.    Kemudian   muncullah    kekuasaan diktator,   maka  terjadilah  apa-apa  yang   Alloh kehendaki   untuk   terjadi,  kemudian   Dia   akan mengangkatnya  bila  Dia  sudah  menghendaki  untuk mengangkatnya. Kemudian muncullah Khalifah di  atas manhaj Nubuwah. (HR. Ahmad)[4]
            Dari   perspektif  tersebut,   makna   khalifah sendiri merujuk kepada: sebuah  bentuk pekerjaan  yang memerlukan keseriusan, karena merupakan  amanah  bagi kemakmuran dan  kemaslakhatan[5]
            Makna  khilafah  juga dapat  merujuk  kepada bentuk kelembagaan  yang  akan melaksanakan   kemakmuran  dan kemaslakhatan   secara bersama (masyarakat). Di mana secara rinci  As-Sanhuri mengatakan ciri-ciri dari pemerintahan kekhilafahan :
a. Saling menyempurnakan antara urusan agama dan sipil
b. Komitmen dengan syareat Islam dan tunduk kepadanya
c. Membuktikan kesetiaan pada dunia Islam[6]
            Sanhuri   sendiri  pada   akhirnya   menegaskan tentang ciri  utama dari sistem  kekhilafahan  adalah berkisar   pada prinsip  syar'iyah   islamiyah   atau kedaulatan  syariat,  di mana cakupan  hukum  meliputi urusan duniawi dan agama.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun dalam Muqadimahnya yang dikutip Abu Zahrah Muhammad, kekhilafahan  sebagai puncak kepemimpinan   (al-imamah   al-kubra)    yang mem-perhatikan  kemaslakhatan dunia, memelihara  agama, serta menjamin kemerdekaan aqidah, jiwa, harta, mereka dalam lingkup   syari'ah.  Istilah   yang   kemudian diberikannya adalah khilafah  kenabian  (kepemimpinan kenabian). Sehingga menurut  Khaldun,   kekhilafahan merujuk  kepada  sebuah lembaga  penegak  dan  peletak  syariat  (Alloh),  yang mana pada  hakekatnya  adalah pelimpahan  dari  peletak  syari'at untuk  memelihara agama dan mengatur dunia.
            Kekhilafahan Dalam SejarahKekhilafahan   dalam sejarah  diawali   dengan terbentuknya   lembaga peme-rintahan   yang   mengatur perikehidupan masyarakat setelah nabi Muhammad  wafat. Lembaga  kekhilafahan sendiri pernah  disinyalir  oleh nabi dalam ungkapan hadis yang diriwayatkan oleh  Imam Ahmad,  yang  memberikan rincian sifat  kekhilafahan, dari  khilafah yang seperti jaman nabi (khilafah  'ala minhajil  nubuwah), khilafah Yang Menggigit,  Khilafah Yang Sombong, Khilafah seperti jaman nabi.
            Sedangkan  jika mau merujuk lebih  dalam  lagi, kekhilafahan  bukan berangkat dari setelah jaman  nabi Muhammad, bahkan lebih awal lagi ketika Adam dijadikan sebagai  khalifah  di muka bumi. Akan  tetapi  istilah kekhilafahan  dalam bentuk pemerintahan  berawal  dari khilafah Rasyidin. Khilafah Rasyidin sendiri  berjalan dalam rentang   waktu  29   tahun.   Khalifah   yang menjalankan roda  pemerintahan, dari Abu  Bakar  Ash-Shidiq,  Umar bin Khattab, Utsman bin Affan,  Ali  bin Abu   Thalib. Kekhilafahan  Rasyidin   memegang   dan menjalankan pemerintahan  tetap di  Madinah.  Periode kekhilafahan  pada rentang waktu ini mendapat  sorotan dan   pujian  yang  sangat  mendalam  dalam   sejarah, sehingga  kekhalifahan ini mendapat gelar  Ar-Rasyidin (yang  lurus).  Bahkan pola pemerintahan  inilah  yang kemudian  menjadi  referensi utama  pemikiran  politik Islam.[7]
            Kelurusan  dari periode ini  terutama  karena tabiat para khalifah yang memegang pemerintahan dengan bijaksana.   Prinsip   pemerintahan   Islam    seperti keadilan, persamaan,   bai'ah,    musyawarah    dan Quraisybenar-benar dijalankan dengan memadai. Khilafah Rasyidin inilah dalam batasan hadis yang  diriwayatkan Imam  Ahmad  dikenal dengan  Khilafah  'ala  Minhajil Nubuwah.[8]
            Kekhilafahan yang kedua --diawali ketika dengan terjadinya huru-hara-- lahir dengan bentuk dan formula yang baru.  Pendiri  kekhilafahan   sendiri   adalah Mu'awiyyah  bin Abi Sofyan, kemenakan dari Utsman  bin Affan. Mu'awiyyah sendiri sebelumnya menjadi  Gubernur di  Damaskus  selama kepemimpinan  khalifah   Utsman, sehingga  ketika Utsman wafat maka  posisi  Mu'awiyyah sebagai  gubernur  terancam, maka  terjadilah  manuver untuk  menggoyang kepemimpinan Khalifah Ali  bin  Abu Thalib.
            Kematian   Ali  bin  Abi  Thalib   memungkinkan Mu'wiyyah  untuk  menampilkan  diri,  apalagi   dengan terbunuhnya  anak Ali --Husein bin Ali-- dalam  perang di padang  Karbala,  menjadikan  posisi   Mu'awiyyah semakin kuat. Hal pertama yang dilakukan oleh khalifah Mu'awiyyah adalah   melakukan   perpindahan    pusat pemerintahan  dari Madinah ke Damaskus. Hal yang  juga tak  kalah  pentingnya, Mu'awiyyah  melakukan  adopsi sistem  pemerintahan dari Romawi maupun  Persia  untuk mendukung  pemerin-tahannya.   Jika   dalam    masalah pengangkatan pemimpin, dilakukan oleh  Majlis  Syuro yang  akan  memilih dari beberapa  orang  yang  telah ditunjuk    oleh   khalifah sebelumnya,    Muawiyyah memperkenalkan  pemaknaan baru. Pemaknaan  penunjukkan ini   dilakukan   langsung  oleh   Mu'awiyyah   kepada putranya,    dan    Majlis    Syuro dibuat    untuk melegalisasikan.   Sehingga  pada  masa pemerintahan Mu'awiyyah  lebih  menampilkan  pemerintahan dinasti dibandingkan  dengan khalifah. Bai'ah  sebagai  sarana penerimaan  kepada Khalifah juga dilakukan revisi,  di mana bai'ah dilakukan oleh Ahlul hal wa al-aqdi  yang ditunjuk  oleh Mu'awiyyah  sendiri  untuk   membai'ah putranya,   tidak harus   secara   langsung   rakyat membai'ah. Dalam batasan hadis yang diriwayatkan  Imam Ahmad,   masa  kekhilafahan Ummayah  dikenal   dengan periode kekhilafahan yang sombong.
            Sehingga  dalam masa pemerintahan  kekhalifahan kedua  ini,  sejarah menyebutnya  dengan  Kekhilafahan Ummayah (Keluarga Ummayah). Masa kekhalifahan Ummayah berjalan cukup lama, sekitar 90 tahun. Hal yang cukup monumental  selama khilafah Ummayah adalah  dalam hal perluasan  wilayah dari Asia Selatan  sampai  Spanyol, mulai  diperkenalkannya sistem mata  uang,  penggajian pegawai, diperkenalkannya Qadhi (hakim khusus) sebagai bidang  yang tersendiri yang tidak di  bawah   kendali langsung khalifah.
            Meskipun    demikian    kekhilafahan    Ummayah  akhirnya    runtuh   digantikan   oleh    kekhilafahan Abbas-siyah.   Ada   beberapa   hal   yang   menyebabkan kemerosot-an kekhilafahan Ummayah:
1. Pola  suksesi yang bersifat senioritas,  dan  tidak jelas. Di mana pada akhirnya menyebabkan persaingan di antara keluarga istana.
2. Latar  belakang  berdirinya  Ummayah  adalah  latar belakang konflik.
3. Luas  wilayah Ummayah yang  menyebabkan  persaingan antar wilayah.
4. Lemahnya pemerintahan Ummayah karena moral khalifah yang   suka  bermewah-mewah,  dan  tidak   mendapat dukungan ulama.
5. Munculnya  kekuatan baru dari keturunan  Abbas  bin Munthalib,  yang  mendapat dukungan  dari  golongan Syi'ah dan Mawali yang dikecewakan oleh Ummayah.[9]
            Setelah runtuhnya kekhalifahan Ummayah  diganti dengan    kekhalifahan    Abbasiyyah.     Kekhalifahan Abbas-siyyah  didirikan  oleh Abdullah bin  Saffah  ibnu Muhammad ibnu   Ali   ibnu   Abdullah   bin   Abbas. Pemerintahan khilafah Abbasiyah merupakan kekhilafahan yang paling lama mencapai 588 tahun. Sehubungan dengan kompleks  dan beragamnya  kekhilafahan  Ummaya,  para muarikh membagi kekhilafahan Ummayah dalam 3 periode:
1. Periode Pertama (750 M-847) disebut dengan pengaruh Persia
2. Periode Kedua (847 M-945 M) disebut dengan pengaruh Turki I
3. Periode  Ketiga  (945  M-1005  M)  disebut   dengan pengaruh Persia kedua
4. Periode  Keempat  (1005  M-1194M)  disebut   dengan pengaruh Turki kedua
5. Periode  Kelima (1194 M-1258 M) disebut masa  bebas dari pengaruh.[10]
            Abdullah    bin    Saffah    dalam    membangun memindahkan   pusat  pemerintahan  dari  Damaskus   ke Baghdad.  Khalifah  Abasiyyah juga  melestarikan  pola pemerintahan   dan   suksesi   pemerintahan    seperti kekhilafahan  Ummayah, demikian pula dengan  melakukan perlebaran   kekuasaan.   Khilafah   Abbasiyyah   juga memperkenalkan  depatermen  baru yang  dikenal  dengan Wazir. Wazir berfungsi sebagai koordinator kelembagaan antar departemen, dan wazir yang pertama adalah Khalid bin Barmak (orang Persia).
            Hal  yang menarik dalam kekhilafahan  Abbasiyah adalah interprestasi tentang khalifah sebagai : Innama anaa sulthaan Alloh fi ardhlihi  (Sesungguhnya  saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya). Di mana  membuka terminologi baru, bahwa kekhalifahan bukanlah  sebagai pengganti  nabi,  bukan  mandat  dari  manusia  tetapi merupakan mandat dari Alloh. Penafsiran baru ini dilakukan semasa khalifah al-Makmun.[11]
            Ternyata  Abbasiyyah yang sangat luas  tersebut mengalami  proses  sejarah  berikutnya,  yakni  dengan kemunduran-kemundurannya   bahkan   sampai    jatuhnya kekhilafahan  Abbasiyyah.  Hal-hal  yang   menyebabkan keruntuhan itu sendiri antara lain:
1. Luasnya   kekuasaan  Abbasiyyah,  sementara   tidak terjadinya kontrol dan komunikasi yang memadai.
2. Profesionalisme    militer,    yang     menyebabkan keter- gantungan  khalifah pada militer  yang  sangat tinggi.
3. Tentara   bayaran,  sebagai   tentara   profesional meng-habiskan pembiayaan negara.
             Sedangkan  menurut  Abu Hasan  An-Nadwy  secara spesifik  menguraikan  keruntuhan  kekhilafahan  Islam karena beberapa hal:
1. Penyerahkan   kepemimpinan   secara   acak,    yang me-nyebabkan persoalan kepemimpinan tidak diserahkan kepada ahlinya.
2. Jauhnya semangat agama dalam gelanggang politik
3. Sifat jahilnya para penguasa, dengan suka bermewah-me-wah  dan berfoya-foya. Masalah ini terekam  dalam tulisan Al-Ashfahani dalam Al-Aghani dan  Al-jahidh dalam Khayawan.
4. Para  Penguasa  tidak memberikan contoh  yang  baik tentang Islam
5. Kurangnya   perhatian   pada  ilmu   praktek   yang ber-manfaat, di mana lebih menfokuskan pada  kajian-kajian metafisika.
6. Timbulnya bid'ah dan kesesatan[12]
            Persoalan  bentuk  kekhilafahan  (kepemimpinan) menjadi  salah satu persoalan yang tak pernah  tuntas. Akan tetapi tentang posisi kekhilafahan sendiri, dalam setiap  mazhab baik Sunni, Syiah dan Sunni  tidak  ada perbedaan.  Di mana kekhilafahan yang  merujuk  kepada kekhilafahan    kenabian yang   berusaha   mewujudkan kemakmuran di dunia dan akherat. Mengenai masalah  ini Ibnu  Hazm memberikan komentar; semua penganut  mazhab Ahlusunnah,  Murji'ah, dan Khawarij  sepakat  tentang kewajiban  mendirikan imamah dan umat  wajib  mematuhi imam  yang  adil, yaitu yang  menengakkan  hukum-hukum Alloh  dan menerapkan syariat yang  dibawa  Rasululloh dengan sebaik-baiknya. Berbeda dengan madzab di  atas, kelompok al-Najdat (pecahan dari Khawarij), mengatakan bahwa,  "rakyat tidak wajib mematuhi  imam,  kewajiban mereka  hanya melaksanakan hak". Kelompok ini  menjadi batal  kesepakatannya disebabkan  bertentangan  dengan perintah  dalam  Qur'an: "Patuhlah  pada  Alloh   dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu".[13]
            Sedangkan persoalan yang mengemuka bukan kepada ada  tidaknya kekhalifahan tetapi tentang  spesifikasi kekhilafahan  itu  sendiri: 1) Apakah  boleh  ada  dua khalifah ataukah harus satu khalifah dalam satu  waktu 2)  Persyaratan  suku Quraisy 3)  Kemestian  bersihnya seorang khalifah  dari  perbuatan  dosa  4)   Apakah khalifah mesti dari keturunan Quraisy ataukah bolehkah dari keturunan lain.
            Jumhur  ulama telah sepakat  tentang  kemestian adanya  imam  untuk menegakkan persatun  dan  mengatur masyarakat, mengusahakan berlakunya hudud,  mengumpul-kan zakat dari orang kaya dan mendistribusikannya pada orang  miskin,  mempertahankan  batas-batas   wilayah, menyelesaikan  perkara dengan cara  mengangkat  hakim, menyatukan   pendapat,   melaksanakan   syari'at   dan menciptakan  negara yang penuh dengan keberkatan  yang dianjurkan Islam.
            Untuk terciptanya sebuah kekhilafahan tersebut, jumhur ulama  telah  menetapkan  empat  syarat   bagi seseorang yang akan diangkat menjadi khalifah;
1. Suku Quraisy
Dasar  ini  diambil dari  hadis  yang  diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
"Dalam  masalah ini (kepemimpinan)  manusia selalu menuruti  suku Quraisy, yang Muslim mengikuti  yang Muslim, dan yang kafir mengikuti yang kafir pula."

Sedangkan  al-Bukhari meriwayatkan dari  Mu'awiyyah bahwa ia mendengar nabi bersabda:
"Masalah ini (kekhalifahan) selalu berada di tangan suku Quraisy. Siapapun yang menentangnya,  wajahnya akan  ditampar  oleh Alloh,  selama  suku  Quraisy melaksanakan ajaran Islam."

Sehingga  dalam perspektif sejarah,  pemimpin  yang tidak mempunyai   nasab   dari   Quraisy    tidak menggunakan gelar kekhalifahan tetapi dengan nisbah sultan.[14]

2. Adanya Bai'at
     Pengangkatan khalifah ialah adanya pembai'atan yang dilakukan   oleh  ahlul  hall  wa  al-aqdi   (wakil rakyat).  Di mana dapat dilakukan dengan  kepatuhan dan kesukarelaan, khilafah Ummayah juga  menerapkan bai'ah  akan  tetapi bai'ah yang  dilakukan  karena perintah penguasa dan timbul karena paksaan.

3. Musyawarah
Proses  pemilihan khalifah sendiri haruslah  dengan jalan musyawarah. Hal ini pernah  ditegaskan  oleh Umar bin Khattab, "Barangsiapa membai'at  seseorang tanpa  dasar musyawarah, maka  janganlah  dilakukan pembai'atan terhadap  dirinya dan  terhadap  orang yang membai'atnya".
4. Keadilan
Syarat   keadilan   yang  mencakup   semua   bentuk keadilan,     baik    kepada     dirinya,     tidak memprioritaskan  keluar-ganya,  tidak  mengutamakan orang yang disenangi, dan tidak menyingkirkan orang yang dibenci. (QS. 4:135).[15]
            Persoalan   yang  kemudian   mengemuka   adalah tentang  bentuknya  kekhilafahan  itu  sendiri.  Dalam perspektif sejarah, bentuk kekhilafahan adalah  bentuk pemerintahan   di   mana   terdapat   satu    khalifah (pemimpin),  dengan satu otoritas dalam  wilayah  yang luas,  melingkupi  dan mengatasi  bahasa  dan  bangsa. Sebagaimana pernah terjadi dalam sejarah awal Islam.
            Akan  tetapi pada sisi yang lain,  kekhilafahan menurut  Hakim  Javid  Iqbal,  bahwa  Al-Quran   tidak menentukan bentuknya  secara jelas dan  tegas  bentuk cara  hidup tertentu.  Bahkan  sepanjang   menyangkut pelaksanaan hukum  Islam,  masyarakat  Muslim   bebas menciptakan model struktur konstitusional apapun  yang dianggap  cocok dengan  situasi,  selama  berdasarkan prinsip musyawarah.[16]
            Sehingga pemikiran ini cenderung melihat kekhilafahan adalah sebagai sebuah model untuk mencari cara pelaksanaan dan  penegakkan syari'ah  sebagai  esensi kelembagaan negara.  Bahkan  Khalid  Ibrahim   Jindan mengatakan bahwa bentuk kekhilafahan dalam operasional sejarah  adalah produk fuqaha.  
            Sedangkan  bentuk kekhilafahan  sendiri  pada satu  sisi telah  menjadi jumhur ulama. Memang dalam khasanah yang lebih  modern terdapat  usaha  untuk memberikan  jalan tengah  yang tidak  keluar  dari  esensi  bentuk  khilafah klasik, sekaligus  juga  tidak  meninggalkan  semangat  jaman, yakni  dengan memberikan kategorisasi  tentang  bentuk kekhilafahan; Kekhalifahan Murni, Kekhalifahan  Minus, dan Kekhilafahan Plus.
            Rujukan    ulama   untuk   menetapkan    bentuk kekhilafahan  klasik  sebagai bentuk  yang  otoritatif beranjak dari  pemahaman  nash  Qur'an  yang   telah membicarakan tentang  konsep  kekhilafahan.  Meskipun dalam  pembicaraan nash  merujuk  secara  umum  bukan khusus  pemerintahan akan tetapi terdapat dalam  surah An-Nur 55 yang memberikan kemungkinan ijtihad :
            Alloh  telah  menjanjikan  bagi  orang-orang   yang beriman  dari  antara  kamu  dan  orang-orang  yang mengerjakan   kebajikan  bahwa  ia   (Alloh)   akan menjadikan   mereka   khalifah   di   muka    bumi, sebagaimana  Ia  telah  menjadikan  khalifah   pada orang-orang   sebelum   mereka,  dan   Alloh   akan memantapkan bagi  mereka  itu  agama  yang   telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan ditukar sesudah kekuatan  mereka itu dengan keamanan.  (QS.  An-Nur 55).
            Hal  mana  kemudian diperkuat  dengan  upaya  untuk mengidentifikasi stuktur-struktur pendukung  dengan memusatkan perhatian pada fungsi-funsi khalifah dan syarat-syarat  yang  mesti dipenuhinya,  dan  upaya tersebut didasarkan  pada  pesan-pesan  pada  ayat Quran dan rentang peristiwa sejarah Islam.[17]

Kekhilafahan Dalam Tarik-Menarik Definsi
            Dalam  menformulasikan ide  hasil  kebangkitan adalah memapankan   struktur    kelembagaan    yang memungkinkan  terjaminnya pelaksanaaan syariah  Islam. Dalam lintasan sejarah terdapat variasi:  kekhalifahan utuh, kekhalifahan minus  (negara-bangsa),  kerajaan, konfederasi, dan keimamahan.[18]
a. Kekhalifahan Utuh
            Ide  ini  adalah sebagai  sebuah  upaya  untuk menformat pemerintahan Islam seperti dalam lintasan sejarah khilafah. Yang mana difahami sebagai bentuk yang paling mendapat legitimasi historis. Ciri yang mengedepan   adalah membangun  kekuatan   adikuasa (super  power) yang mampu mengendalikan tata  dunia menuju  kemaslakhatan bersama.  Pola  kepemimpinan bersifat universal dan terstruktur, tidak terbatasi ruang  dan waktu. Hal ini pernah terjadi dalam  era keemasan Islam Klasik sampia penghujung abad 19, di Turki Utsmani.
b. Kekhalifahan Minus (Negara Bangsa)
            Ide ini adalah sebagai sebuah upaya mendirikan kelembagaan di mana aturan syari'ah tetap  dominan, meski bukan  sebagai penentu utama.  Tidak  secara jelas  syari'ah sebagai  hukum  tertinggi,  tetapi syari'ah  tetap mensemangati dalam skala  tertentu. Rentang  penerapan  syari'ah dalam batas  tertentu saja   tidak   secara  menyeluruh.   Berkuasa dan mengendalikan dalam batas wilayah tertentu.  Hampir semua dunia Islam menggunakan pola ini.
c. Kerajaan
            Ide ini sangat berdekatan dengan ide  khalifah minus, tetapi dengan asumsi ada sekelompok tertentu karena  ikatan tradisional  berhak  memimpin   dan menjamin pelaksanaan syari'ah. Ciri yang mengedepan dalam  pola  ini adalah sebagai hasil  pertarungan dengan kelompok internal dan sedikit bersinggungan (oposan)  dengan  kekuatan  eksternal,  atau malah sebagai  bentukan  (atau mendapat  rekognisi)  dari kekuatan    eksternal   (barat).    Berkuasa    dan mengendali-kan dalam batas wilayah tertentu.  Banyak diadopsi oleh negara Kesultanan dan  kerajaan  di  Timur  Tengah dengan pola non  Konstituisonal  dan sebagian   di  Asia Tenggara dengan   Kesultanan konstitusional.
d. Konfederasi (Kekhalifahan Baru)
            Ide   ini   mendukung   semangat   pembentukan kekhilafahan  yang  mondial, tetapi  dengan  format baru dengan tidak mengabaikan kekhalifahan  minus. Ide ini ditandai dengan semangat pluralitas negara, otoritas dan lembaga. Kekhalifahan minus  merupakan bahan  terbesar untuk membangun  kekhalifahan  baru yang  satu  sama  lain bekerja  sama  dalam  upaya menunjang kemaslakhatan dunia dan tegak kepentingan manusia yang diatur oleh syari'ah.
            Hal ini terbangun dalam gerakan dan organisasi Konferensi    Islam   sebagai    upaya    penyatuan solidaritas di  dunia Islam yang  relatif  berbeda untuk  mencapai kepentingan  bersama.  Sebagaimana diketahui  OKI  lahir karena  pembakaran  Masjidil Aqsha oleh etnis Yahudi di Palestina.


[1]Lihat dalam Abdul Qadir Jailani, Negara Idial: Menurut Konsepsi Islam, Surabaya, Bina Ilmu, 1995, hal. 149-151

[2]lihat dalam Abdul Qadir, ibid. hal 151

[3] ibid. 152

[4] Hussein bin Muhsin bin Ali Jabir, Ath-Thariq Ilaa Jama'atil Muslimin (Membentuk Jama'atul Muslimin), Jakarta, Gema Insani Press, 1991, hal. 91

[5]Lihat dalam Muhammad Imarah, Ma'aalim Al-Manhaj Al-Islamiy, (Karakteristik Metode Islam), Jakarta, DDII, 1994, hal. 44

[6] Lihat   dalam   Taufiq  Asy-Syawi,   Fiqhusy-Syura   Wal-Istisyarat (Syura Bukan Demokrasi), Jakarta, Gema  Insani Press, 1997, hal. 745

[7] lihat ungkapan ini dalam Jusuf Syoeb, Sejarah Khilafah Rasyidin, Jakarta, Bulan Bintang, 1979

[8] Lihat dalam Husein bin Muhsin, op.cit. dan dalam batasan lain Ibnu Khaldun juga memberikan pujian.

[9] Lihat  dalam Drs. Badri Yatim, MA,  Sejarah  Peradaban Islam:   Dirasah  Islamiyah  II,   Jakarta,   RajaGrafindo Persada, 1993, hal. 48-49
[10] Ibid. hal. 49-50

[11]lihat dalam Badri Yatim, ibid., hal. 52

[12]lihat secara mendalam dalam Abul Hasan  Ali  Al-Hasany An-Nadwy, Kerugian   Dunia  Karena   Kemunduran   Islam, Surabaya, Bina Ilmu,1984, hal. 164-170

[13]lihat kembali ibid., hal. 22
[14] lihat dalam uraian ini dalam Zainal Abidin Ahmad,  Ilmu Politik Islam Jilid 4, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

[15] lihat Abu Zahrah Muhammad, op.cit, hal. 88-104

[16] lihat dalam Taufiq Asy-Syawi, Syura  Bukan  Demokrasi, Jakarta, Gema Insani Press, 1997
[17] lihat Kalid Ibrahim Jindan, op.cit. hal. 121

[18]lihat  dalam Taufiq Asy-Syawi,  Syura  Bukan  Demokrasi,Jakarta,  Gema Insani Press, 1997 dan lihat pula John  Obert Voll,  Politik  Islam:   Keberlangsungan  dan  Perubangan  ,Yogyakarta, Titian Ilahi Press, 1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar