Cari Blog Ini

Rabu, 30 November 2011

filsafat umum empirime


Empirisme
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
Pengalaman ialah hasil persentuhan alam dengan panca indra manusia. Berasal dari kata pengalam-an. Pengalaman memungkinkan seseorang menjadi tahu dan hasil tahu ini kemudian disebut pengetahuan [1] Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman juga diketahui sebagai pengetahuan empirikal atau pengetahuan posteriori. Seorang dengan cukup banyak pengalaman di bidang tertentu dipanggil ahli.
Dalam sains dan metode ilmiah, empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau onsekuensi yang teramati oleh indera. Data empiris berarti data yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan. Dalam statistika, kuantitas "empiris" berarti nilai-nilai yang berasal dari pengamatan atau percobaan. Nilai ini berlawanan arti dengan kuantitas "teoretis" yang diturunkan dari analisis teoretis.Dalam dunia kerja istilah pengalaman juga digunakan untuk merujuk pada pengetahuan dan ketrampilan tentang sesuatu yang diperoleh lewat keterlibatan atau berkaitan dengannya selama periode tertentu. Secara umum, pengalaman menunjuk kepada mengetahui bagaimana atau pengetahuan prosedural, daripada pengetahuan proposisional.
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.
John Locke (29 Agustus 1632 – 28 Oktober 1704) adalah filsuf dari Inggris dengan pandangan empirisme. Ia sering disebut sebagai tokoh yang memberikan titik terang dalam perkembangan psikologi. Teori yang sangat penting darinya adalah tentang gejala kejiwaan adalah bahwa jiwa itu pada saat mula-mula seseorang dilahirkan masih bersih bagaikan sebuah "tabula rasa".
George Berkeley adalah seorang filsuf Irlandia yang juga menjabat sebagai uskup di Gereja Anglikan.[1] Bersama John Locke dan David Hume, ia tergolong sebagai filsuf empiris Inggris yang terkenal.[1] Ia dilahirkan pada tahun 1685 dan meninggal pada tahun 1753.[1] Berkeley mengembangkan suatu pandangan tentang pengenalan visual tentang jarak dan ruang.[1] Selain itu, ia juga mengembangkan sistem metafisik yang serupa dengan idealisme untuk melawan pandangan skeptisisme.[1]
Inti pandangan filsafat Berkeley adalah tentang pengenalan.[2] Menurut Berkeley, pengamatan terjadi bukan karena hubungan antara subyek yang mengamati dan obyek yang diamati.[2] Pengamatan justru terjadi karena hubungan pengamatan antara pengamatan indra yang satu dengan dengan pengamatan indra yang lain.[2] Misalnya, jika seseorang mengamati meja, hal itu dimungkinkan karena ada hubungan antara indra pelihat dan indra peraba.[2] Indra penglihatan hanya mampu menunjukkan ada warna meja, sedangkan bentuk meja didapat dari indra peraba.[2] Kedua indra tersebut juga tidak menunjukkan jarak antara meja dengan orang itu, sebab yang memungkinkan pengenalan jarak adalah indra lain dan juga pengalaman.[2] Dengan demikian, Berkeley mengatakan bahwa pengenalan hanya mungkin terjadap sesuatu yang kongkret.[2]
David Hume (26 April, 1711 – 25 Agustus, 1776[1]) adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan. Karyanya The History of England[2] merupakan karya dasar dari sejarah Inggris untuk 60 atau 70 tahun sampai Karya Macaulay.[3]
Hume merupakan filusuf besar pertama dari era modern yang membuat filosofi naturalistis. Filosofi ini sebagian mengandung penolakan atas prevalensi dalam konsepsi dari pikiran manusia merupakan miniatur dari kesadaran suci; sebuah pernyataan Edward Craig yang dimasukan dalam doktrin 'Image of God'.[4]Doktrin ini diasosiasikan dengan kepercayaan dalam kekuatan akal manusia dan penglihatan dalam realitas, dimana kekuatan yang berisi seritikasi Tuhan. Skeptisme Hume datang dari penolakannya atas ideal didalam'.[5]
Hume sangat dipengaruhi oleh empirisis John Locke dan George Berkeley, dan juiga bermacam penulis berbahasa Perancis seperti Pierre Bayle, dan bermacam figur dalam landasan intelektual berbahasa Inggris seperti Isaac Newton, Samuel Clarke, Francis Hutcheson, Adam Smith, dan Joseph Butle
·      Empirisme 2
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricismdan experience.13 Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani ?µpe???a(empeiria) dan dari kata experietia14 yang berarti “berpengalaman dalam”,“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut A.R. Lacey15
berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkankepada pengalaman yang menggunakan indera.Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenaiEmpirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicaridalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yangdibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalahsatu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.16
Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlakdan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapatdikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebihlambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas denganmengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besaruntuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin.17Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusiadapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkanseorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itukepada saya”. Dalam persoalan mengenai fkta maka dia harus diyakinkan olehpengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa seekor harimaudi kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menjelaskan bagaimana kitadapat sampai kepada kesimpulan tersebut. Jika kemudian kita mengatakan bahwakita melihat harimau tersebut di dalam kamar mandi, baru kaum empiris akanmau mendengar laporan mengenai pengalaman kita, namun dia hanya akanmenerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.18Seperti juga pada Rasionalisme, maka pada Empirisme pun terdapatbanyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya. Tokoh-tokohdimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan Bishop
·         Empirisme David Hume
David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711.33 Ia pun menempuhpendidikannya di sana. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum,tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Setelah dalam beberapatahun belajar secara otodidak, ia pindah ke La Flèche, Prancis (tempat di manaDescartes menempuh pendidikan).34 Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis.Sebagaimana Descartes, Hume juga meninggalkan banyak tulisan berikut:
bersambung......................................................................................................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar